Terminal Teluk Lamong Targetkan Arus Peti Kemas 3,04 Juta TEUs

Rabu, 04 Maret 2026 | 14:26:13 WIB
Terminal Teluk Lamong Targetkan Arus Peti Kemas 3,04 Juta TEUs

JAKARTA - PT Terminal Teluk Lamong (TTL) menyiapkan strategi ambisius untuk mengelola arus peti kemas tahun 2026. 

Perusahaan menargetkan volume 3.048.275 TEUs, meningkat 7,8 persen dibandingkan capaian tahun 2025 sebesar 2.827.256 TEUs. 

Peningkatan ini mencerminkan optimisme manajemen untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan perdagangan nasional dan global, sekaligus memperkuat posisi TTL sebagai pelabuhan peti kemas terkemuka di Indonesia.

Direktur Utama TTL, David P. Sirait, menegaskan bahwa pencapaian target tersebut bukan sekadar angka. “TTL optimis dapat mencapai target tahun 2026 melalui aksi-aksi strategis yang terukur,” katanya.

Menurutnya, strategi ini mengombinasikan peningkatan produktivitas bongkar muat, efisiensi operasional, dan penguatan layanan bernilai tambah bagi pengguna jasa.

Peningkatan produktivitas tidak hanya diukur dari jumlah TEUs yang berhasil dilayani, tetapi juga terkait kecepatan, keandalan, dan keselamatan operasional. TTL menilai bahwa aspek keselamatan atau safety menjadi salah satu pilar utama agar pertumbuhan tetap berkelanjutan.

Efisiensi Operasional dan Optimalisasi Layanan

TTL menekankan pentingnya efisiensi operasional sebagai kunci untuk mendukung target pertumbuhan. Manajemen menargetkan pengurangan waktu tunggu kapal, peningkatan kecepatan bongkar muat, serta pemanfaatan teknologi untuk memperkuat manajemen rantai pasok di pelabuhan.

Selain itu, TTL juga fokus pada penguatan layanan bernilai tambah bagi pengguna jasa. Layanan ini mencakup kemudahan proses administrasi, fasilitas logistik terpadu, serta layanan digital yang mempermudah pelanggan dalam melacak dan mengelola pengiriman. 

David Sirait menekankan, strategi layanan ini harus sejalan dengan kebutuhan pelaku industri dan pengguna jasa yang terus berkembang.

Penguatan layanan juga terkait dengan aspek kualitas. TTL berkomitmen untuk menjaga kualitas operasional tetap tinggi, tidak hanya dalam kecepatan dan efisiensi, tetapi juga dalam menjaga integritas dan keamanan barang yang ditangani. Hal ini dinilai penting untuk membangun kepercayaan pelanggan dalam jangka panjang.

Transformasi dan Port Resilience

TTL memandang tahun 2026 sebagai fase penting untuk melakukan transformasi menyeluruh. Transformasi ini mencakup peningkatan port resilience atau ketahanan pelabuhan, agar mampu menghadapi tantangan operasional dan fluktuasi volume barang di masa mendatang.

David P. Sirait menekankan bahwa transformasi ini melibatkan seluruh aspek operasional, mulai dari SDM, teknologi, hingga kolaborasi dengan stakeholder. 

“Keberhasilan transformasi TTL akan sangat ditentukan oleh peran sumber daya manusia sebagai motor penggerak utama terhadap capaian operasional dan finansial maupun dalam memberikan manfaat sosial,” ujarnya.

Port resilience juga berarti TTL harus mampu beradaptasi dengan kondisi pasar yang dinamis, termasuk perubahan arus perdagangan regional dan global. Strategi ini memastikan keberlanjutan kinerja perusahaan dan meminimalkan risiko operasional, sambil tetap menjaga kepuasan pelanggan.

Peran Sumber Daya Manusia

TTL menekankan bahwa sumber daya manusia menjadi faktor krusial dalam mencapai target 2026. SDM yang kompeten dan terlatih dapat mengelola operasi pelabuhan dengan efisien, menerapkan standar keselamatan tinggi, dan memastikan layanan pelanggan tetap prima.

David P. Sirait menambahkan bahwa setiap karyawan TTL diharapkan memiliki pemahaman menyeluruh terkait proses bongkar muat, sistem logistik, serta teknologi yang digunakan di pelabuhan. Dengan demikian, seluruh tim dapat bekerja secara sinkron untuk mencapai produktivitas dan kualitas layanan yang maksimal.

Pelatihan berkelanjutan dan peningkatan kompetensi menjadi salah satu fokus manajemen untuk memperkuat peran SDM. TTL yakin bahwa investasi pada SDM akan berdampak langsung pada pencapaian target TEUs, pertumbuhan pendapatan, dan penguatan reputasi pelabuhan secara keseluruhan.

Kolaborasi dengan Stakeholder dan Value Creation

TTL tidak berjalan sendiri dalam pencapaian target. Kolaborasi strategis dengan seluruh stakeholder termasuk operator logistik, perusahaan pelayaran, otoritas pelabuhan, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan. 

David Sirait menegaskan pentingnya koordinasi untuk mengoptimalkan arus barang dan meminimalkan hambatan operasional.

“TTL akan menjalin konsolidasi internal dan kolaborasi dengan seluruh stakeholder yang disertai fokus pada peningkatan layanan operasional yang berorientasi pada keselamatan dan kebutuhan pengguna jasa,” ujarnya. 

Strategi kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan value creation nyata, tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi ekonomi lokal dan nasional.

Keberhasilan TTL dalam mengelola arus peti kemas di tahun 2026 akan menjadi tolok ukur seberapa baik perusahaan mampu menyeimbangkan pertumbuhan volume, efisiensi, kualitas layanan, keselamatan operasional, serta kontribusi sosial. 

Dengan langkah strategis yang terukur, TTL optimistis dapat mewujudkan pertumbuhan berkelanjutan dan memperkuat posisinya sebagai pelabuhan peti kemas utama di Indonesia.

Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Terminal Teluk Lamong untuk menunjukkan kinerja optimal. Dengan strategi peningkatan produktivitas, efisiensi, transformasi, port resilience, SDM kompeten, dan kolaborasi stakeholder, TTL menargetkan 3,04 juta TEUs dan pertumbuhan pendapatan yang signifikan. 

Keberhasilan target ini akan mencerminkan kemampuan pelabuhan modern dalam mendukung perdagangan nasional dan memperkuat layanan logistik yang berkelanjutan.

Terkini